Keselarasan posisi syarak dan adat merupakan satu kesatuan identitas hakiki bagi masyarakat Minangkabau. Memisahkan salah satu dari keduanya, sama saja dengan menanggalkan status sosial keminangkabauannya. Inilah perspektif yang terus hidup dalam tatanan sosial kemasyarakatan orang Minangkabau. Sebaliknya, menumbuh-kembangkan salah satu dan/ atau kedua aspek tersebut menjadi tindakan penguatan terhadap identitas keminangkabauan. Di sinilah posisi strategis kehadiran Ma’had Aly yang didirikan oleh Pontren MTI Canduang, yakni hadir untuk memperkuat aspek Syarak.


Kekuatan syara’ yang dimaksud adalah dalam rangka menghadapi perkembangan dunia teknologi hari ini, MASSA Candung hadir sebagai benteng kekuatan generasi muda. Sehubungan dengan hal itu, pemerintah memberikan hak serta membuka ruang bagi masyarakat untuk ikut serta menyukseskan visi pendidikan nasional, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Ruang partisipasi masyarakat menyelenggarakan pendidikan dibuka luas untuk seluruh jenis dan tingkatan pendidikan. Dalam hal ini, Pontren MTI Candung telah dipercaya dan ditetapkan oleh pemerintah sebagai salah satu lembaga pendidikan yang diberi hak untuk menyelenggarakan Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam dalam bentuk lembaga pendidikan Ma’had Aly.


Pendirian Ma’had Aly Pontren MTI Candung berada dalam posisi momentum yang sangat tepat. Ketepatan itu didukung dan didorong oleh tuntutan kondisi obyektif lembaga pendidikan pesantren dan masyarakat. Dalam hal ini, kehadiran tenaga pendidik yang mumpuni telah menjadi kebutuhan mendesak bagi pondok pesantren. Disisi lain, Ma’had Aly dihadapkan akan tantangan “melepaskan dahaga” masyarakat akan kehadiran ulama dan da’i yang memiliki literasi keislaman yang mumpuni.


Ma’had aly yang diselenggarakan Pontren MTI Candung dinamai dengan Ma’had Aly Syekh Sulaiman Arrasuli yang disingkat dengan MASSA. Hal ini dilakukan untuk penghargaan terhadap pendiri Pontren MTI Candung, yaitu Syekh Sulaiman Arrasuli, yang lahir, dibesarkan, dan berkiprah demi kemerdekaan dan kebangsaan berawal dari Candung. Penyelenggaraan pendidikan Ma’had Aly fokus pada kajian bahasa dan sastra Arab. Hal ini berupa pengkajian terhadap karya-karya ulama abad pertengahan tentang bahasa dan sastra Arab, seperti ilmu Nahwu, Sharaf, Balaghah, dan Mantiq sebagai ilmu dasar dan ilmu analisa dasar dalam pengkajian terhadap bahasa dan sastra Arab al-Qur’an dan hadits.


Dalam konteks ini, pengkajian yang terfokus pada bahasa dan sastra Arab tidak menutup ruang bagi mahasantri dalam materi-materi lainnya, seperti ushul fiqh, qawaid al-Fiqhiyah dan lainnya karena tidak terlepas dari kajian berbasis kutub al-turats. Sasaran utama dari fokus kajian bahasa dan sastra Arab tidak hanya sebatas mengantarkan mahasantri pada kemampuan berbahasa, tetapi lebih dari hal itu, yaitu kemampuan mahasantri dalam mengurai dan membahas kebahasaan dan kesusastraan Arab al-Qur’an dan hadits.